<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dika Poenya</title>
	<atom:link href="http://dika.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dika.wordpress.com</link>
	<description>Dika Poenya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Aug 2006 19:35:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dika.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dika Poenya</title>
		<link>http://dika.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dika.wordpress.com/osd.xml" title="Dika Poenya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dika.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Korban Kecemburuan Politik</title>
		<link>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/korban-kecemburuan-politik/</link>
		<comments>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/korban-kecemburuan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Aug 2006 07:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://dika.wordpress.com/2006/08/11/korban-kecemburuan-politik/</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 05 Agustus 2001 Riyono Pratikto Korban Kecemburuan Politik Dunia sastra di tahun 1950-an sempat diramaikan oleh seorang sastrawan bernama Riyono Pratikto. Waktu itu nama Riyono memang begitu berkibar. Dia banyak menulis cerpen horor. Sebuah karyanya &#8216;Pasukan Berani Mati&#8217; sempat dimuat secara bersambung oleh majalah anak legendaris &#8216;Si Kuncung&#8217;. Tapi kemudian namanya surut begitu tuduhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dika.wordpress.com&amp;blog=350578&amp;post=14&amp;subd=dika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 05 Agustus 2001<br />
Riyono Pratikto<br />
Korban Kecemburuan Politik</p>
<p>Dunia sastra di tahun 1950-an sempat diramaikan oleh seorang sastrawan bernama Riyono Pratikto. Waktu itu nama Riyono memang begitu berkibar. Dia banyak menulis cerpen horor. Sebuah karyanya &#8216;Pasukan Berani Mati&#8217; sempat dimuat secara bersambung oleh majalah anak legendaris &#8216;Si Kuncung&#8217;.<br />
<span id="more-14"></span><br />
Tapi kemudian namanya surut begitu tuduhan sebagai anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi binaan PKI) menderanya. Tulisan Riyono tak lagi muncul. Aktivitasnya sebagai pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad pun dihentikan secara paksa. Di tahun 1987, dia dipecat dengan tidak hormat karena tuduhan itu.</p>
<p>Setelah keluar dari Unpad, Riyono tinggal di sebuah rumah di Jl Sosiologi 18, Cigadung, Bandung bersama isteri tercintanya. Gangguan jantung dan alergi dingin mulai mengganjalnya. Meski begitu, dia tak henti menulis. Sebuah otobiografi tengah digarapnya untuk diterbitkan kelak.</p>
<p>Berikut penuturan Riyono seputar tuduhannya sebagai anggota Lekra kepada wartawan Republika, Irfan Junaedi :</p>
<p>Mulai kapan Anda menanggung beban yang cukup berat karena dituduh anggota Lekra?<br />
Ya. Yang cukup berat itu terjadi sekitar tahun 1986-1987. Waktu itu, saya sudah mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad). Tiba-tiba saya dipanggil dan diinterogasi beberapa kali. Ada yang menginterogasi secara perorangan, ada juga yang dengan tim. Saya terus dituduh sebagai anggota Lekra.</p>
<p>Saya memang pernah menulis di tabloid &#8216;Zaman Baru&#8217; milik Lekra. Tapi tulisan itu bukan saya yang berinisiatif mengirim. Mereka meminta saya menulis disitu. Dan kalau itu saya lakukan, apa salahnya. Sebab waktu itu kan tidak ada larangan untuk menulis di koran mereka (Zaman Baru-red). Dan penghargaan mereka terhadap tulisan, patut diacungi jempol.<br />
Terus terang, tuduhan itu membuat saya merasa sangat dinistakan. Saya jelaskan kepada mereka (penginterogasi-red), bahwa saya bukan anggota Lekra. Dan rasanya tidak mungkin saya anggota Lekra.</p>
<p>Argumentasi apa yang Anda ungkapkan waktu itu untuk membantah tuduhan sebagai anggota Lekra?<br />
Begini ya, ayah saya itu seorang Komisaris Besar Polisi di Ambarawa. Beliau kepala kepolisian untuk wilayah Ambarawa dan kemudian ditambah dengan Salatiga. Waktu itu, ayah saya diculik oleh kelompok pemuda dari Lekra. Itu saya tahu karena setelah bapak saya diculik, datang kelompok lain dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan polisi. Kelompok yang terakhir ini, rupanya mau mencegah. Tapi mereka datang terlambat.</p>
<p>Dengan kejadian ini, saya tidak mungkin jadi anggota Lekra. Kalau saya masuk Lekra, itu kan saya berkhianat kepada bapak saya sendiri. Saya berdosa. Saya jelaskan itu, kepada mereka yang menuduh saya Lekra. Tapi tetap saja tidak percaya.</p>
<p>Kalau begitu, apa mungkin ada konspirasi yang sengaja ingin menggusur Anda dari Fikom Unpad?<br />
Saya rasakan memang ada konspirasi untuk menggusur saya. Tapi itu dari kalangan sipil. Sebab, saya pernah ketemu dengan pejabat militer. Dia (pejabatn militer ini &#8211;red) yang menyatakan bahwa dari militer sendiri tidak ada tuduhan itu. Mungkin karena kecemburuan di Unpad saja.</p>
<p>Apa yang bisa orang cemburui dari Anda?<br />
Waktu itu memang karir saya sedang menanjak. Saya banyak diundang berbicara di beberapa seminar. Pada saat yang bersamaan, program doktor saya juga diterima. Apalagi doktor komunikasi waktu itu memang masih sedikit. Sehingga tidak jarang ada yang cemburu dengan program doktor yang saya ikuti. Saya dibiayai oleh P dan K, tapi lewat Unpad.</p>
<p>Waktu itu, saya sampai dilarang membimbing skripsi untuk mahasiswa. Alasannya, karena saya masuk program doktor sehingga saya tidak diijinkan untuk membimbing skripsi. Memang saat itu banyak yang minta bimbingan ke saya. Saya waktu itu kan jadi dosen Humas. Tapi ternyata banyak juga dari Jurusan Jurnalistik yang meminta bimbingan ke saya. Ada juga mahasiswa dari Malaysia, yang kemudian jadi kepala polisi. Mungkin itu yang menimbulkan kecemburuan.</p>
<p>Sejak diinterogasi secara intensif, Riyono kemudian diminta meninggalkan rumah dinasnya di Sekeloa dan pindah ke Cigadung. Bekas rumah dinas Riyono, saat ini ditempati Pengajar Fikom Unpad, Pandhu Edhi Kuncoro. Kini rumah tersebut telah direhab menjadi tiga lantai.</p>
<p>Sejatinya, ayah empat putra ini merasa berat untuk dipindah mendadak. &#8220;Bukan perabotan yang saya beratkan, tapi buku-buku itu. Saya perlu waktu untuk menata dan memindahkan buku-buku,&#8221; tuturnya. Selain itu, saat diminta pindah, rumah yang di Cigadung belum siap huni.</p>
<p>Lantai rumah yang berada di Jl Sosiologi 18 Cigadung itu, masih ditumbuhi rumput. Rangka kayunya juga mulai banyak yang keropos. Bahkan seharusnya kayu-kayu penopang rumah itu semua diganti. Seekor ular ditemukan di dalam rumah, ketika dia mulai menempatinya.</p>
<p>Begitu pindah, dia sempat mendengar cerita dari tetangganya bahwa Dekan Fikom Unpad -waktu itu dijabat Hartoyo Kusumo- menyurati tokoh masyarakat Cigadung. Surat tersebut intinya menjelaskan bahwa Riyono terlibat G 30 S/PKI dan meminta masyarakat berhati-hati menerima kepindahannya.</p>
<p>Tak lama setelah pindah ke Cigadung, pada tahun 1987 penulis kumpulan cerpen &#8216;Si Rangka&#8217; itu resmi dipecat sebagai PNS. Konsekuensinya, secara otomatis, dia juga tidak bisa lagi mengajar di Unpad. Surat pemecatan itu ditandatangani langsung Mendikbud waktu itu, Fuad Hasan. Mulanya, sosok Fuad begitu dikagumi Riyono. Tapi, setelah peristiwa itu, dia mengaku kesulitan untuk bisa kembali mengagumi Fuad Hasan.</p>
<p>Sejak kapan, tuduhan Lekra menimpa Anda ?<br />
Sebenarnya, itu sudah mulai saya rasakan sejak masih menjadi mahasiswa publisistik (cikal bakal Fikom &#8211;red) di Unpad. Waktu itu, Jabar mau membuat Dewan Kesenian Jabar. Tapi ini baru rencana. Tiba-tiba saya dianggap sebagai salah satu anggota lembaga itu. Sehingga saya diminta keluar dan banyak yang berteriak agar Lekra diganyang dan anggota yang dari Lekra harus dikeluarkan dari Dewan Kesenian.</p>
<p>Saya kaget. Saya tidak pernah dihubungi, tidak pernah dikasih tahu, dan tidak pernah mendaftarkan diri jadi anggota Dewan Kesenian. Tapi kok tiba-tiba muncul tuduhan seperti itu.</p>
<p>Waktu itu, tahun 1965, saya kemudian dipanggil beberapa kali untuk diinterogasi. Karena kampus percaya bahwa saya terlibat G 30 S/PKI, maka saya kemudian diskors. Tapi ternyata saya lolos dari interogasi yang antara lain juga melibatkan Kodam Siliwangi.</p>
<p>Setelah itu, saya melanjutkan studi untuk meraih sarjana. Akhirnya pada tahun 1969, saya berhasil jadi sarjana. Waktu itu saya langsung ditawari untuk mengajar di situ. Sampai tahun 1987, dengan alasan ada data baru, saya kembali diinterogasi dengan tuduhan yang sama. Kali ini, tuduhan itu berakhir dengan pemecatan secara tidak hormat.</p>
<p>Kabarnya yang jadi data baru itu adalah salah satu buku Ajip Rosidi yang mencantumkan nama Anda?<br />
Saya sangat yakin Ajip tidak akan sampai menuduh saya Lekra. Saya kenal beliau sejak masih kecil. Setelah dipecat, saya kemudian surat menyurat dengan Ajip yang waktu itu berada di Jepang. Sampai sekarang, surat-surat itu saya kumpulkan. Tapi karena biaya surat-menyurat makin lama makin mahal, saya akhiri surat menyurat itu. Suatu saat nanti ingin saya terbitkan. Hasil surat-menyurat itu adalah Ajip membuat penjelasan yang menyatakan bahwa saya tidak terlibat Lekra.<br />
Ajip juga sengaja mendatangi saya begitu membaca kabar pemecatan saya ditulis majalah Tempo waktu itu. Agar ngobrol-nya lebih enak, saya dibawa menginap di sebuah hotel di Garut. Saya ditanya soal efek pemberitaan itu. Saya katakan bahwa itu merupakan salah satu bentuk perlawanan yang bisa saya lakukan.</p>
<p>Apa aktivitas Anda setelah dipecat dengan tidak hormat?<br />
Waktu itu, saya hanya berdo&#8217;a agar saya tetap dilindungi. Saya juga berdo&#8217;a agar diberi ilham yang banyak untuk saya tulis. Do&#8217;a kedua saya rupanya memang cepat terpenuhi. Tiba-tiba saya diberi banyak sekali ilham untuk bahan tulisan.</p>
<p>Sayangnya, ada yang lupa dalam do&#8217;a itu. Saya tidak melengkapi do&#8217;a itu dengan permohonan agar diberi kekuatan untuk menuliskannya. Sehingga banyak sekali ilham yang akhirnya tidak mampu saya tuliskan. Mestinya kan saya berdoa, &#8220;Ya Allah berilah saya banyak ilham, dan berilah saya kemampuan untuk menuliskannya.&#8221;</p>
<p>Jadi ya, setelah dipecat saya hanya menulis untuk sendiri saja. Sebab siapa sih yang mau menerima tulisan orang yang dituduh terlibat G 30 S/PKI. Saya pernah mencoba mengirimkan cerpen ke sebuah media. Tapi kemudian cerpen saya dikembalikan dengan alasan tidak ada ruang.</p>
<p>Apakah Anda juga diperlakukan seperti para tahanan politik yang terlibat G 30 S/PKI?<br />
Ada cerita begini. Di tahun 1991, saya menikahkan anak saya di aula Pemda DKI. Waktu itu ada ritual yang mengharuskan saya menyisih dari acara. Saya duduk di sebuah ruangan. Kemudian di saat termenung, muncul firasat bahwa saya akan kena kewajiban apel (layaknya tapol di masa Orba).</p>
<p>Ternyata betul. Dua bulan setelah itu, saya mendapat surat untuk mengikuti Santiaji (semacam ceramah untuk para tapol &#8211;red). Tadinya saya nggak mau berangkat. Tapi isteri saya terus membesarkan hati saya. Akhirnya saya berangkat meskipun duduknya di belakang.<br />
Ternyata pemberi materi acara itu adalah mahasiswa saya sendiri. Saat membuka ceramah, dia mengucapkan permintaan maaf. Dia mengaku hanya menjalankan tugas. Dan selesai ceramah, dia kembali mendatangi saya dan meminta maaf. Tapi saya katakan bahwa ceramah dia bagus. Saya tegaskan ke dia bahwa meskipun dituduh PKI, saya tidak pernah ditahan.</p>
<p>Undangan seperti itu sempat saya terima beberapa kali. Dan saya juga beberapa kali mengikutinya. Sebagai penulis saya mestinya memanfaatkan acara itu untuk mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Tapi saya tidak lakukan itu. Saya hanya diam saja setiap ikut Santiaji.</p>
<p>Darah sastranya sudah mengalir deras dalam diri putra kelahiran Semarang 27 Agustus 1932 ini. Sejak masih duduk di bangku SMP sudah mulai menulis cerpen. Sebuah cerpennya berjudul &#8216;Api&#8217; sempat dimuat di &#8216;Mimbar Indonesia&#8217;. Kritikus sastra kondang (alm HB) Jassin menjulukinya sebagai &#8216;anak ajaib&#8217;. Dan di tahun 1950-an, dia banyak dikenal sebagai penulis paling produktif.</p>
<p>Cerpen-cerpen yang ditulisnya banyak berisi cerita horor. Itu karena terpengaruh pengalamannya saat masih kecil menyaksikan pertempuran di Semarang. Peristiwa yang kemudian dikenal Pertempuran Lima Hari di Semarang memberinya pengalaman yang sangat mendalam. Mayat-mayat korban pertempuran yang bertumpuk di dekat gubernuran masih terus diingatnya sampai sekarang.</p>
<p>Beberapa kumpulan Cerpen karyanya yang sempat terbit antara lain &#8216;Si Rangka&#8217;, &#8216;Api&#8217;, serta &#8216;Pasukan Berani Mati&#8217;. Novelnya yang berjudul &#8216;Wiramuda dari Ambarawa&#8217; dan &#8216;Sepanjang Sungai Sepanjang Bukit&#8217; malah diterbitkan di Malaysia.</p>
<p>Kepiawaiannya menulis membuatnya sempat diundang ke Rusia. Namanya pun ditulis dalam sebuah koran terbitan Rusia. Kini kliping koran tersebut masih disimpan rapi. Bersamaan dengan itu, dia juga menjadi wakil dalam Festival Pemuda di Korea Utara. Dari Korea Utara, perjalanan dilanjutkannya ke RRC dan Hongkong.</p>
<p>Selain menulis sastra, Riyono juga aktif membuat textbook bagi mahasiswa komunikasi. Beberapa buku panduan yang disusunnya itu adalah &#8216;Komunikasi Pembangunan&#8217;, &#8216;Lingkaran-lingkaran Komunikasi&#8217;, &#8216;Jangkauan Komunikasi&#8217;, juga &#8216;Kreatif Menulis Feature&#8217;. Buku-buku tersebut memang akrab dengan mahasiswa komunikasi, sehingga sempat beberapa kali dicetak ulang.</p>
<p>Kalau tulisannya hanya untuk sendiri, lalu bagaimana Anda bisa bertahan?<br />
Sampai saat ini, saya memang tidak diberi pensiun. Tapi Alhamdulillah, saya masih punya anak. Merekalah yang selama ini terus menjaga kami. Salah satu anak saya sempat ditawari mengajar di Fikom Unpad. Tapi dia ternyata trauma. Takut kalau nasib yang menimpa saya diungkit lagi. Akhirnya dia memilih bekerja di swasta.</p>
<p>Kapan Anda akan kembali menulis untuk dinikmati masyarakat luas?<br />
Saat ini, saya sedang menyiapkan delapan novel secara simultan. Mudah-mudahan bisa diterbitkan dalam waktu dekat. Itu terutama saya niatkan setelah Soeharto lengser.</p>
<p>Waktu itu memang saya terus mengikuti acara televisi. Persis pada tanggal 21 Mei 1998, saya melihat pengumuman pengunduran diri Soeharto. Saya langsung sujud syukur di depan televisi. Saya lalu keluar rumah dan memberi tahu kepada tukang sayur yang sedang dikerumuni ibu-ibu. Tukang sayur itu langsung berteriak &#8216;Alhamdulillah&#8217;.<br />
Di antara delapan novel yang sedang saya siapkan terdapat cerita tentang penjarahan di pertengahan Mei 1998. Ada juga kisah tentang percintaan dengan setting gedung DPR/MPR.</p>
<p>Sampai saat ini, pernahkan Anda menerima surat rehabilitasi atau yang serupa itu?<br />
Sebenarnya pada tahun 1965, surat-surat itu. Termasuk pihak Kodam Siliwangi juga menyatakan saya bebas. Tapi pada tahun 1987, surat-surat itu diminta oleh Unpad. Sampai sekarang saya tidak memegangnya lagi. Untuk mendapat surat-surat itu, saya harus mengurusnya dari RT, RW, kelurahan dan seterusnya. Karena surat-surat itulah, saya bisa ikut kuliah lagi.</p>
<p>Apakah Anda tertarik untuk menuntut proses rehabilitasi kepada pemerintah lewat jalur hukum?<br />
Saya sempat diajak oleh seseorang yang sebenarnya dulu ikut menggusur saya dari Unpad. Tapi waktu itu, saya kurang tertarik. Memang saya berharap bisa mendapatkan pensiun dan nama saya direhabilitasi. Ajip bersama Ramadhan KH, dan Taufik Ismail pernah meminta itu kepada Mendiknas, Yahya Muhaimin. Tapi tampaknya tidak ada respon.</p>
<p>Pernah juga saya diajak pak Sagir (Soeharsono Sagir, ahli ekonomi dari Unpad &#8211;red), ketemu Menpan yang waktu itu dijabat Pak Sarwono. Saya kemudian oleh menteri direkomendasikan ke BAKN (kini jadi BKN). Tapi ternyata BAKN menerima saya dengan sikap tidak enak dan tidak mau menerima saya lagi sebagai PNS. Akhirnya, saya harap dengan penerbitan novel-novel dan cerpen ini, nama saya terehabilitir.</p>
<p>Tuduhan itu tentu membuat Anda dan keluarga trauma. Bagaimana mengatasinya?<br />
Ya, saya ingat betul tentang sebuah ayat Alqur&#8217;an yang intinya menyebutkan &#8220;Janganlah kamu merasa beriman sebelum kamu pernah Aku uji&#8221;. Buat saya, tuduhan-tuduhan itu memang ujian untuk meningkatkan iman. Sehingga, begitu ujian datang, saya perbanyak shalat, sampai lutut saya ngapal.</p>
<p>Alhamdulillah, dengan mendekatkan diri kepada Allah, saya tidak stres. Saya bisa menerimanya dengan wajar. Dan yang juga membuat saya harus bersyukur, anak-anak saya juga bisa menerima. Malah yang paling kecil (namanya Ryogarta Ruiyana Pratikto) bisa mengambil hikmahnya. Dia katakan, tuduhan dan pecatan itu membuatnya beruntung. Sebab dengan begitu, dia jadi bisa hidup lebih prihatin dan tidak ugal-ugalan.</p>
<p>Putri saya satu-satunya (namanya Ryodina Ganefsri Pratikto) sempat tidak mau mengajar karena trauma. Akhirnya dia bekerja di LSM. Sekitar setahun yang lalu, dia sudah mulai mau mengajar.</p>
<p>Agama seperti menjadi pilihan buat Anda untuk mengatasi masalah. Kehidupan keagamaan Anda sebenarnya berjalan seperti apa?<br />
Sejak kecil, saya memang tertarik dengan agama. Ketika muda, saya banyak tertarik dengan filsafatnya. Sehingga syari&#8217;atnya banyak tertinggal. Saya termasuk orang yang tertarik dengan ceramah Pak Jalal (Jalaluddin Rakhmat). Suatu saat, dia ceramah di Cigadung. Sebelum ceramah dia mampir dulu ke rumah saya. Tadinya minta berangkat bareng. Tapi saya minta dia berangkat dulu.</p>
<p>Waktu memulai ceramah, dia katakan bahwa dia sebenarnya malu untuk mulai berceramah. Sebab, katanya, di depan dia ada dosennya, yakni saya. Ucapan itu, buat saya jadi penghormatan yang luar biasa.<br />
Masih soal agama, suatu ketika, saat saya sempat kuliah di ITB, saya didatangi pemulung. Dia minta baju atau sepatu bekas. Kemudian dia tunjukkan sebuah Alquran berukuran sangat kecil, sekitar 2 cm.</p>
<p>Saya tertarik dengan Quran itu. Lalu saya berniat membelinya. Tapi dia tidak mau jual. Terus, saya kasih dia dua celana dan sebuah sepatu. Dia kasihkan Alqur&#8217;an itu ke saya. Sampai sekarang masih saya simpan. Nah, peristiwa itu seperti mengingatkan saya untuk lebih mantap menjalani agama. Sejak itu saya lengkapi shalat menjadi lima waktu.</p>
<p>Pada kesempatan lain, saya terserang asma. Waktu itu masih di Sekeloa. Penyakit itu, kumat setiap pukul 1.30 atau 2.00 dinihari. Awalnya, saya hanya bangun dan latihan nafas untuk mengatasi asma saya. Tapi kemudian saya pikir, lebih baik saya tahajud saja setiap kumat asmanya. Alhamdulillah, tak lama setelah itu, asma saya tidak kumat lagi.</p>
<p>Tapi sekarang, shalat malamnya, tidak lagi rutin. Kadang-kadang saja. Tapi kalau shalat Dhuha, hampir tidak pernah lewat. Saya selalu menyempatkannya. Untuk menambah pengetahuan agama, saya ikuti ceramah di televisi atau baca. Kalau isteri saya (Sri Lassini Sagir, 66 tahun) rajin ikut pengajian. Dalam seminggu sekitar tiga pengajian yang dia ikuti.</p>
<p>Seteleh dipecat dari Unpad, dia biayai hidupnya dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Malaysia. Menurutnya, ada tiga buku yang terbit di Malaysia, selepas dirinya dipecat. Selain itu, dia juga mengaku banyak dibantu oleh putra-putrinya, yakni Ryodian Banassatya Pratikto (41), Ryopora Tanang Pratikto (39), Ryodina Ganefsri Pratikto (38), dan Ryogarta Ruiyana Pratikto (28). Seorang putrinya, yakni Ryodina bisa memberikan sampai Rp 400 ribu setiap bulan.</p>
<p>Di masa tuanya kini, Riyono terus menulis dengan sebuah mesin ketik manual. Bahan-bahan tulisannya tersusun lengkap di dua kamar rumahnya. Kliping koran tentang sejarah, politik, juga Islam, dikumpulkan dengan rapi. Rubrik konsultasi agama bersama Quraish Shihab dibendel secara lengkap. Skripsi mahasiswa yang pernah dibimbingnya juga tersimpan dalam dua tumpukan.</p>
<p>Satu koleksinya yang cukup unik adalah lembar-lembar jawaban mahasiswa yang sempat dibimbingnya. Sebuah buku bersampul coklat, berisi lembar jawaban siswa Sekolah Komando Polisi (kini Sespimpol) lengkap dengan soalnya, juga terselip diantara buku-buku yang bertumpuk di rak. Semua itu, katanya, berisi bahan yang bisa dijadikan tulisan.</p>
<p>Ajip Rosidi:<br />
Saya merasa tak enak, karena alasan pemecatan Riyono didasarkan pada buku saya, Ikhtisar Sejarah Sastra, yang salah dibaca. Buku saya itu kan memuat sastrawan-sastrawan yang sudah terkenal sebelum mereka menulis di media Lekra. Bukan mengkategorikan mereka sebagai anggota Lekra.</p>
<p>Saya sendiri sudah mengirim surat ke Pak Fuad Hassan (sewaktu dia masih menteri) dan juga mengirim kepada Pak Yahya Muhaimin (mendiknas sekarang). Saya meminta agar Riyono direhabilisasi namanya. Karena saya di Jepang, saya mengirimnya lewat surat. Tidak mungkin bertemu langsung. Kata Pak Tufiq (Taufiq Ismail) yang menjadi penghubung di Jakarta, Pak Yahya bersedia membantu. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya.</p>
<p>Menurut saya, Riyono itu orangnya lugu. Ia pengarang yang berkarya berdasarkan fantasi. Dia orang yang susah punya kawan, karena sibuk sendiri, mengabdikan diri pada kesastraan. Ia sangat produktif berkarya kala itu. Ia tak memenuhi persyaratan sebagai orang Lekra. ia bukan tipe orang yang suka berorganisasi.</p>
<p>Untuk merehabilitasi namanya, memang perlu dukungan. kalau sekarang ada gerakan ramai-ramai untuk rehabilitasi namanya dan hak pensiunnya, saya sangat setuju. pry<br />
<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini</p>
<p>Selasa, 14 Agustus 2001<br />
Mau Demokrasi<br />
(Tidak Mau Politik)</p>
<p>Didik J Rachbini</p>
<p>Saya merasa geli ketika mendengar pendapat agar portofolio tim ekonomi di dalam kabinet tidak diisi oleh orang partai. Pengunjuk pendapat ini minta agar tim ekonomi diisi oleh orang-orang yang mereka anggap &#8216;profesional&#8217;. Mereka ini mendikotomikan secara ekstrem makna profesional dengan politik yang &#8211;secara otomatis&#8211; dalam cara berpikir ini dianggap tidak profesional.</p>
<p>Isu seperti ini sebenarnya telah muncul ke permukaan beberapa waktu yang lalu, setelah pada masa Abdurrahman Wahid terjadi pergantian kabinet baru dengan mematok 70 persen porsi menteri untuk profesional dan 30 persen lainnya bagi para politisi partai. Kinerja kabinet utusan partai dianggap tidak memadai sehingga alternatifnya harus dari kalangan profesional yang mereka anggap tidak &#8220;tercemar&#8221; oleh partai.</p>
<p>Bila memang demikian, ada usul dengan pola pikir ekstrem tetapi teramat naif: mengapa institusi departemen tidak diswastakan saja, sehingga leluasa dipimpin oleh profesional? Kasusnya pun sudah pernah ada, seperti tugas melakukan sigi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang digantikan swasta, dalam hal ini SGS.</p>
<p>Atau boleh saja orang berpikir lebih ekstrem lagi: mengapa tidak &#8220;sekalian&#8221; presiden dan wakil presiden diserahkan saja kepada manajer profesional kelas dunia, seperti Jack Welsh? Elected position ditiadakan dan diganti penunjukan profesional biasa, dengan pertimbangan seseorang berpengalaman dalam bidang tertentu. Pertanyaannya, siapa pemegang sahamnya, yang punya hak untuk menunjuk pemimpin yang dianggap profesional itu?<br />
Jadi, mengikuti cara berpikir naif di atas perlu dinaifkan lagi dengan usulan eksperimen swastanisasi institusi kepresidenan sehingga presiden dan wakilnya diserahkan pada profesional. Kalau ini yang terjadi, proses politik kemudian tidak diperlukan lagi. Tetapi, cara dan siapa yang mesti menunjuk profesional itu yang kini menjadi soal lebih mendasar lagi.</p>
<p>Cara berpikir seperti ini sama naifnya dengan cara berpikir menggantikan posisi political appointee &#8211;misalnya di kabinet&#8211; dengan para profesional. Berpikir dengan jalan pintas ini berarti menghilangkan substansi dari makna proses politik yang sebenarnya. Profesional tidak dapat menggantikan substansi politik tersebut.</p>
<p>Tetapi, substansi politik dengan profesionalisme merupakan syarat yang penting untuk menjalankan demokrasi dan praktik politik yang lebih detail lainnya.<br />
Basis sistem berpikir di Indonesia ternyata masih belum sesuai dengan sistem demokrasi modern. Atau lebih jauh lagi, cara berpikir kolektif seperti ini tidak cukup memadai untuk menjadi basis dalam membangun sistem politik yang modern.</p>
<p>Buktinya, apakah korupsi yang marak sekali pada zaman Orde Baru dilakukan oleh orang partai? Ternyata tidak. Justru yang banyak berbuat tak terpuji dan menyebabkan kebangkrutan bangsa ini adalah tindakan profesional birokrat dan para pengambil keputusan, yang juga dianggap profesional itu. Jadi, betapa sangat tidak beralasan bila ada yang meminta agar kabinet ekonomi hanya diisi kalangan &#8216;profesional&#8217;.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dika.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dika.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dika.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dika.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dika.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dika.wordpress.com&amp;blog=350578&amp;post=14&amp;subd=dika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/korban-kecemburuan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94034fb13a086578b79b8f9eb9abbb28?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isra&#8217; Mi&#8217;raj</title>
		<link>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/isra-miraj/</link>
		<comments>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/isra-miraj/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Aug 2006 07:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ceramah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://dika.wordpress.com/2006/08/11/isra-miraj/</guid>
		<description><![CDATA[Di antara yang perlu kita ketahui dan sampaikan tentang Isra&#8217; Mi&#8217;raj adalah : 1. Makna ayat &#8220;Subhanallazi asra bi&#8217;abdihi laylan minal-masjidil-harami ilal-masjidil-aqsha allazi barakna hawlahu linuriyahu min ayatina innahu huwassami&#8217;ul-bashir&#8221;&#8230; Makna &#8220;Asra bi&#8217;abdihi&#8221; : Memperjalankan Rasul pada malam hari&#8230; 2. Makna &#8220;Laylan&#8221; : Secara ghaib dan rahasia&#8230; 3. Makna &#8220;Hawlahu&#8221; bukan sekelilingnya namun kekuatan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dika.wordpress.com&amp;blog=350578&amp;post=4&amp;subd=dika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3">Di antara yang perlu kita ketahui dan sampaikan tentang Isra&#8217; Mi&#8217;raj adalah :<br />
1. Makna ayat &#8220;Subhanallazi asra bi&#8217;abdihi laylan minal-masjidil-harami ilal-masjidil-aqsha allazi barakna hawlahu linuriyahu min ayatina innahu huwassami&#8217;ul-bashir&#8221;&#8230; Makna &#8220;Asra bi&#8217;abdihi&#8221; : Memperjalankan Rasul pada malam hari&#8230;</font></p>
<p><span id="more-4"></span><br />
<font size="3">2. Makna &#8220;Laylan&#8221; : Secara ghaib dan rahasia&#8230;<br />
3. Makna &#8220;Hawlahu&#8221; bukan sekelilingnya namun kekuatan dan kejayaanya&#8230; &#8220;Barakna hawlahu&#8221; : Kami berkati daya unggulnya, kejayaanya, atau kekuatannya atau apalah gak tau&#8230; pokoknya Hawlahu itu semakna dengan Hawl pada kalimat &#8220;La hawla wala quwwata illa billah&#8221;&#8230; Allah mengatakan : &#8220;Hawlahu&#8221; bukan Min hawlihi&#8230; kalo Min hawlihi artinya : sekelilingnya.<br />
4. Makna &#8220;Linuriyahu min ayatina&#8221; : Agar kami tunjukkan Muhammad kepada tanda-tanda kekuasaan kami&#8221;&#8230; bukan agar kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami kepada Muhammad.<br />
5. &#8220;Innahu huwassami&#8217;ul-bashir&#8221; maksudnya Nabi Muhammad saw. karena Allah telah berfirman dalam surat Al-Insan ayat 2 : &#8220;Maka kami jadikan Muhammad itu Sami&#8217;an Bashira&#8221;<br />
6. Pulang perginya Rasul ketika ngelobi so&#8217;al solat bukan karena tunduk kepada perintah Nabi Musa as. dan bukan hanya untuk mengurangi beban umat namun lebih penting dari itu agar Nabi Musa as. dapat terus menikmati musyahadah kepada Rasul yang telah berkali-kali melihat Allah&#8230; (Ka&#8217;annahu ra&#8217;allah).<br />
7. Rasul dapat dan telah melihat Allah dengan mata kepala, akal, hati dan roh beliau.. (Al-Ufuq Al-A&#8217;la atau Al-Ufuq Al-Mubin). Dalilnya adalah surat Annajm dari ayat 11 sampai 17.<br />
8. Ketika Rasul mengajak Jibril untuk ikut musyahadah melewati Sidratul-Muntaha, Jibril menolak dengan alasan takut terbakar karena gak tahan tajalliyyat&#8230;. padahal&#8230;. seandainya saja ia mau ikut, pasti selamat&#8230; bukankah junjungan alam sedang bersamanya ??? ngapain takut ?? tapi yang jelas Jibril menolak mungkin karena menjaga etika atau khawatir mengganggu musyahadah dan perbincangan beliau dengan Allah swt.<br />
9. Isra&#8217; ke masjid aqsha mengisyaratkan martabat islam&#8230; mi&#8217;raj ke sidratul-muntaha mengisyaratkan martabat iman&#8230; nah&#8230; perjalanan Rasul secara keseorangan dari sidratul-muntaha menuju musyahadah ilahiah dan melalui rafraf dan jazabat mengisyaratkan martabat ihsan&#8230;.<br />
10. Hadits tentang Rasul memeluk Siti A&#8217;isyah ra. sebelum Isra&#8217; adalah tdk benar karena peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj terjadi sebelum hijrah, sementara Nabi menikahi Siti A&#8217;isyah ra. setelah hijrah&#8230; !!!<br />
11. Allah swt. berbincang dengan Rasulullah saw. dengan menggunakan suara Saidina Abu Bakr ra. &#8230;.. Madad ya Saidna Aba Bakr&#8230;<br />
12. Peristiwa seperti itu Rasulullah memanfaatkannya untuk menguji keimanan umat dan kaum, ada yang heran, ada yang lumayan percaya tapi tidak sepenuhnya, ada yang percaya 100% seperti Saidna Abu Bakr ra. dan ada yang malah tertawa, tidak percaya sama sekali dan melarang orang untuk menerimanya sebab tidak masuk akal, seperti Abu Lahab&#8230;<br />
13. dan masih banyak lagi&#8230;. Madad ya Maulana Syekh&#8230; Madad&#8230; Madad&#8230; Madad&#8230; Madad&#8230; Madad&#8230;.</font></p>
<p><font size="3">Abdul-Mukhtar &lt;aziznawadi@yahoo.com&gt; wrote:<br />
Ada sebagian pendapat orang mengatakan bahwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj Rasulullah saw. itu terjadi disebabkan karena beliau besedih hati karena meninggalnya paman beliau : Saidina Abu Thalib ra.</font></p>
<p><font size="3">Namun apakah memang benar beliau bersedih hati? padahal wali saja tidak pernah takut dan tidak bernah bersedih walau apapun menimpa dirinya&#8230; &#8220;Ala inna auliya&#8217;allahi la khaufun alaihim wala hum yahzanun&#8221;&#8230; Jika para auliya&#8217; pun tidak bakalan takut atau bersedih, lalu bagaimana dengan mereka yg lebih tinggi kedudukannya ?? para anbiya&#8217; ?? para rasul ?? dan para ulul-azmi ?? tentunya lebih tenang lagi dari pada auliya&#8217;&#8230; lalu bagaimana dengan baginda Rasulullah Saidina wa Maulana Muhammad saw. yang sebagai cahaya yg menyinari seluruh jagad raya ini ??? apakah layak bersedih hanya karena wafatnya salah seorang keluarga ???</font></p>
<p><font size="3">Mungkin saja beliau pernah menangis, karena sejarah telah menyatakan hal itu&#8230; namun apakah tangisan beliau itu karena sedih ?? tepatnya tidak !!! beliau menangis sebetulnya hanya untuk mensyari&#8217;atkan cara menangis yang tepat dan benar menurut tuntunan islam&#8230; beliau hanya mengajar umat beliau untuk bisa menghadapi musibah dengan lebih sabar dan penuh reda&#8230; bukan dengan cara memukul pipi sendiri atau merobek pakaian&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Ketika beliau lupa di dalam solat misalnya&#8230; bukan karena beliau memang sungguh-sungguh lupa, namun hanya untuk mengajarkan atau mensyari&#8217;atkan kepada umat cara menangani imam yg sedang lupa&#8230; Beliau tidak hanya mengajar dengan teori namun lebih mantap lagi dengan praktek langsung&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Nah&#8230; begitu pula ketika menangis&#8230; beliau hanyalah membimbing umat kepada sikap yg lebih baik dalam menghadapi berbagai bala&#8217; dan musibah&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Lalu bagaimana dengan peristiwa Isra&#8217; Mi&#8217;raj ?? benarkah disebabkan karena Allah swt. hendak menghibur beliau ?? bukankah kita telah sepakat bahwa beliau sebetulnya tidak bersedih atau kecewa atau stress atau frustasi atau merasa kehilangan ?? kehilangan bagaimana ?? utusan Allah yang penuh kesempurnaan seperti beliau kok merasa kehilangan ?? sangat mustahil&#8230; !!!</font></p>
<p><font size="3">Sekali lagi&#8230; Ada apa dengan Isra&#8217; Mi&#8217;raj ???</font></p>
<p><font size="3">Suatu hal yang amat diyakini oleh mereka yang telah mendapat hidayah Allah&#8230; adalah bahwasanya Rasulullah saw. adalah ciptaan Allah yang pertama kali&#8230; beliau adalah wihdatul-wujud&#8230; sumber segala makhluq di jagad raya ini&#8230; dari beliaulah dan karena beliaulah Allah menciptakan semua makhluq yg ada di semesta alam ini&#8230; Dari nur beliau dan demi keagungan beliau semua kita menjadi ada dan berada&#8230;.</font></p>
<p><font size="3">Betapa Allah mencintai hambanya itu &#8230;. dan betapa hamba itu sangat mencintai Tuhannya&#8230; sungguh Tiada tuhan selain Allah&#8230; dan Saidina Muhammad-lah utusan Allah &#8230; tiada tuhan selain Allah&#8230; dan tiada kemuliaan sedikitpun di atas utusan Allah&#8230; Saidina Muhammad saw.</font></p>
<p><font size="3">Allah adalah tujuan satu-satunya&#8230; dan Rasulullah adalah prantara atau wasilah yang tiada pernah ada duanya&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Ketika beliau pertama kali diciptakan&#8230; beliau masih dalam kecahayaan&#8230; sebelum jasad beliau muncul di muka bumi sebagai seorang khalifah yang handal&#8230; keindahan cahaya beliau masih dinikmati dan dilayani oleh semua makhluq yang ada di langit, khususnya para mala&#8217;ikat&#8230; para mala&#8217;ikat itu sangat bahagia bisa bersama beliau di langit&#8230;. segala tanda kekuasaan Allah di langit begitu ikhlas menundukkan kepalanya di bawah kaki beliau&#8230; sang kekasih Allah&#8230; sang wihdatul-wujud&#8230; sang nurul-wujud&#8230; !!! beliau adalah cahaya yang menyinari semua yang ada&#8230; matahari-pun begitu gelap gulita dengan keberadaan beliau&#8230; Subhanallah&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Ketika saat telah tiba&#8230; baginda-pun turun ke bumi&#8230; dan terlahir sebagai manusia dengan jasad yang nyata&#8230; penghuni alam langit-pun bersedih hati&#8230; beliau telah pindah ke alam bumi, untuk memusnahkan kebejatan manusia&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Sungguh sedih&#8230; tak tahan lagi merindukan beliau kembali ke langit&#8230; tak lahan lagi merindukan cahaya beliau yang telah membuat kebahagiaan mereka (para penghuni langit itu) menjadi amat sempurna&#8230; Ya Rasulallah&#8230; engkau memang tak kan pernah membutuhkan khidmat dari kami&#8230; dan tak kan pernah puas dengan pujaan-pujaan kami&#8230; namun apa yang mampu kami lakukan lagi ?? kami tetap membutuhkanmu ya Rasulallah&#8230; kami sadar akan kekurangan dan kerendahan kami&#8230; kami tidak akan pernah mampu memujamu&#8230; tak kan pernah mampu melayanimu&#8230; namun&#8230; kami tetap merindukanmu ya Rasulallah&#8230; cintamu senantiasa memenuhi jiwa raga kami&#8230; Ya Allah&#8230; betapa mulianya hambamu itu&#8230; betapa kami amat mencintainya&#8230;. berikanlah kami reda-Mu dan reda-Nya&#8230;.</font></p>
<p><font size="3">Begitu sedihnya penghuni langit ditinggalkan oleh Rasulullah saw. akankah beliau kembali melepas rindu mereka ???</font></p>
<p><font size="3">Isra&#8217; Mi&#8217;raj&#8230;. tibalah saatnya&#8230; !!! kunjungilah mereka walau sekejap mata&#8230; sungguh mereka telah gila&#8230; !!!!!</font></p>
<p><font size="3">Rasulullah-pun selalu taat kepada Tuhannya&#8230; enggih hai Tuhanku&#8230; saya akan mengunjungi mereka&#8230; saya akan hibur mereka !!!</font></p>
<p><font size="3">Tim penjemput-pun segera melaksanakan tugas mereka&#8230; dengan amat bahagia&#8230; Buraq&#8230; dan Malai&#8217;kat Jibril as.</font></p>
<p><font size="3">Semua telah menanti-nantikan kehadiran beliau ke langit&#8230; alam langit sudah mulai terhiburkan walau masih dipenuhi lautan kerinduan&#8230; mereka telah lama siap menyambut sang raja&#8230; semakin tak tahan saja&#8230;</font></p>
<p><font size="3">Buraq-pun terlena saat beliau menunggangnya&#8230; Masya&#8217;allaaaaah&#8230; indahnyaaa&#8230; nikmatnyaaaaaa&#8230;.</font></p>
<p><font size="3">Mala&#8217;ikat Jibril mulai menuntun di depan sebagai supir setia yang mengiringi perjalanan tuan mulia sampai ke ujung sana&#8230; yaaaaaaaaaaaahhh&#8230; bisa ya setiap hari begini ???</font></p>
<p><font size="3">Buraq&#8230; apakah untuk mempercepat perjalanan ??? bukankah beliau merupakan cahaya di atas cahaya ??? bukankah sinar cahaya yg bisa kita lihat dengan mata telanjang di dunia ini memiliki kecepatan tiada tara ??? lalu bagaimana dengan sang raja cahaya di atas segala cahaya &#8230;.. ???? lalu apakah fungsi buraq sebetulnya ??? tiada lain disamping untuk bisa turut memberikan khidmah, ternyata fungsi buraq adalah untuk memperlambat perjalanan !!!!</font></p>
<p><font size="3">Lalu untuk apa diperlambat ??? ternyata beliau harus menyempatkan diri berkunjung ke para pembesar langit satu-persatu untuk bisa melepaskan kerinduan mereka juga sebelum menghadap yang maha esa&#8230; Buraq siap membuat rihlah beliau menjadi lebih santai&#8230; walau buraq yakin Rasulullah sebetulnya sangat tidak membutuhkannya&#8230;.</font></p>
<p><font size="3">Sampailah beliau di Masjid Al-Aqsha&#8230; perjalanan Isra&#8217; telah berakhir&#8230; Apa yang terjadi di masjid itu ??? dan apa yang terjadi sesudahnya ??? (bersambung)<br />
</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dika.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dika.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dika.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dika.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dika.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dika.wordpress.com&amp;blog=350578&amp;post=4&amp;subd=dika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dika.wordpress.com/2006/08/11/isra-miraj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94034fb13a086578b79b8f9eb9abbb28?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dika</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
